728x90 AdSpace

HEADLINE NEWS

17 Maret 2010

Fatwa haram rokok yang dikeluarkan oleh MUI, menebar banyak pandangan masyarakat. ada yang pro dan ada yang kontra, hal itu sejalan dengan masih banyaknya masalah yang terjadi di negara ini. Menkes menyebutkan bahwa anggaran kesehatan juga tidak dianggarkan untuk mereka yang perokok, bahkan mereka yang merokok tidak akan mendapat tunjangan kesehatan. ada yang setuju dengan hal ini, karena rokok dipandang sebagai hal yang paling umum merusak masyarakat dan merugikan masyarakat (menurut pandangan pro) dan yang kontra mereka berpandangan bahwa industri rokok di indonesia menyediakan lapangan kerja bagi petani tembakau dan pengrajin rokok, apabila pabrik rokok ini ditutup, maka akan semakin banyak pengangguran di negara ini.
Yang menjadi permasalahan di masyarakat kita adalah, betulkah rokok adalah haram hukumnya bagi mereka yang menggunakannya?

Fatwa ini jelas membuat kontradiksi di masyarakat kita, mereka ada yang beranggap bahwa MUI telah melampui kebebasan seseorang atau umatnya dengan menyatakan bahwa rokok itu haram.

Ada juga yang beranggapan bahwa rokok bukanlah haram tapi Makruh menurut hukum Islam. Dan soal rokok ini, semua tergantung dari pribadi masing-masing.

Lalu, dengan fatwa MUI ini, apakah MUI sudah siap menanggung pengadaan lapangan pekerjaan bagi ratusan bahkan jutaan buruh pabrik di Indonesia?

Mungkin mereka yang setuju dengan fatwa ini, adalah mereka-mereka yang telah sadar betul tentang bahwa merokok bagi tubuh kita dan bagi kesehatan kita.

Masyarakat yang paham dan sadar tentang bahaya merokok ini, mungkin adalah mereka-mereka yang telah hidup berkecukupan, mengenal tentang kesehatan, paham soal berbagai sumber penyakit di sekitar kita.

Tapi bagaimana dengan penduduk yang berada di pedesaan, atau di pinggiran kota. Yang jauh dari pelayanan kesehatan, kurang informasi tentang kesehatan, hidup tidak layak, dan mereka hanya mengandalkan kartu AskesKin dari pemerintah setempat.

Lalu bagaimana nasib buruh sendiri yang notabene mereka adalah golongan rakyat miskin, yang mengandalkan hidup sebagai buruh di pabrik rokok.

Atau bagaimana dengan pedagang kios di pinggir jalan yang menjual salah satunya rokok sebagai andalan memperoleh pendapatan untuk menyambung hidup mereka sehari-hari.

Apakah sudah selayaknya fatwa haram rokok ini dikeluarkan. Atau sudah seberapa parahkan masyarakat kita terhadap rokok?

Kalo mo jujur, masih banyak juga para ulama, kyai, ustad yang mereka juga suka merokok bahkan lebih dari orang lain. Banyak juga santri-santri di pondok pesantren yang diam-diam mereka bersembunyi dari kyai untuk hanya sekedar menikmati rokok saja.

Bila Fatwa ini nantinya benar-benar diresmikan di Indonesia ini, bagaimana para petani kita yang dikala sedang istirahat setelah menanam padi istirahat di pinggir sawah sambil menikmati sebatang rokok atau tambakau giling.

Atau bagaimana nasib nelayan kita, yang dikala sedang melaut sambil menunggu hasil tangkapan, mereka untuk sekedar melepas rasa jenuh, maka mereka menikmati rokok sambil berharap memperoleh tangkapan yang lebih banyak.

Atau bagaimana nasih pedagang asongan yang selalu berada di perempatan lampu merah yang menjajakan rokok atau sekedar makanan kecil, berharap ada pembeli yang memerlukannya.

Lalu bagaimana para Hansip yang bertugas ronda di sekitar komplek rumah kita setiap malam, tanpa tidur dan untuk melepas rasa kantuk, mereka menunggu sambil menghisap rokok yang dibeli di warung ujung gang.

Atau mungkin bagaimana juga nasih para home band dan grup musik yang sedang mengadakan tur keliling untuk promosi albumnya. Karena hampir semua tur musik di negeri ini selalu di sponsori oleh salah satu perusahaan rokok terkemuka di Indonesia

Atau bagaimana juga nasib acara olah raga di televisi terutama sepakbola yang kesemuanya disponsori oleh perusahaan rokok. Padahal acara sepakbola itu sendiri mungkin saja digemari oleh para ulama, atau mungkin para santri di pondok pesantrennya.

Lalu bagaimana dengan di Arab Saudi sendiri, yang merupakan penduduk mayoritas muslim semua, apakah mereka juga mengharamkan rokok untuk dikonsumsi oleh umatnya

Banyak para saudagar-saudagar kaya dari Arab yang mereka juga selalu menikmati rokok dikala sedang bersantai atau dalam kesehariannya.

Apakah fatwa haram rokok dari MUI ini terlalu berlebihan? Sementara masih banyak masalah-masalah di masyarakat ini yang lebih penting untuk diurus, seperti tentang perbedaan keyakinan, aliran sesat, tindakan korupsi dan lain-lainnya, yang lebih penting dari sekedar sebatang rokok saja.

Mungkin akan lebih tepat kalo MUI tidak mengeluarkan fatwa haram, tapi hanya berupa himbauan saja kepada masyarakat bahwa merokok itu sangat berbahaya untuk kesehatan kita.

Dan akan lebih baik lagi kalo MUI mendorong pemerintah untuk segera mengeluarkan peraturan yang membatasi ruang gerak bagi para perokok. Atau juga membuat batasan tentang jenis kegiatan atau event yang boleh di sponsori oleh perusahan rokok

Banyak juga perusahaan rokok di Indonesia ini yang memberikan kontribusi tidak sedikit bagi pembangunan negeri ini. Salah satunya memberikan bantuan biaya siswa kepada anak yang berprestasi atau kepada anak yang tidak mampu.

Bakti sosial untuk warga miskin di pedesaan, atau menyalurkan para siswa yang berprestasi agar mendapatkan kesempatan bersekolah lebih baik di sekolah-sekolah ternama.

Adanya sekolah yang keseluruhannya di renovasi total oleh salah satu perusahan rokok, karena mereka peduli terhadap pendidikan, terutama mereka yang ada di pedesaan.

Tidak jarang juga tempat-tempat ibadah seperti masjid atau mushola yang dibangun oleh perusahaan rokok. Kalo begini apakah rokok itu haram?

Mungkin sebaiknya kita harus mencontoh negara-negara di kawasan eropa. Soal rokok mereka tidak melarang warganya, tapi mereka membuat aturan yang sangat ketat dengan membuat tax atau pajak yang sangat tinggi terhadap sebuah rokok.

Selain itu, mereka juga membuat aturan yang membatasi pemasangan iklan, papan reklame, billboard, poster di tempat-tempat umum.

Kita tahu bahwa salah satu pelaksanaan grand prix F1 di negara Paris Perancis, mereka melarang menggunakan iklan rokok dalam mobil-mobil pesertanya. Tidak hanya itu, di seluruh sirkuit juga tidak di perbolehkan memasang iklan rokok.

Nah, kita juga di Indonesia bisa berbuat seperti itu. Dengan membatasi gerak dari perusahaan rokok tidak pada tempat umum.

Atau mungkin saja kita bisa menambahkan reverensi bagi para pelamar pekerjaan tentang syarat dan ketentuan soal rokok ini.

Dilematis memang kalo berbicara soal rokok di negeri ini. Di satu sisi ini juga mendatangkan pendapatan bagi negara, tapi di satu sisi ini berdampak negatif bagi kesehatan

Jadi kalo sudah begini, tinggal kita kembalikan kepada individu masing-masing umat manusia. Tugas pemerintah dan MUI hanya sekedar mengingatkan tentang bahaya rokok kepada masyarakat seluas-luasnya dengan menyebarkan informasi kesetiap lapisan masyarakat mulai dari perkotaan, hingga perdesaan, mulai dari rakyat miskin dengan kartu AskesKin-nya atau mereka yang mendapat pelayanan RS terbaik di kota-kota besar.

Asrizal Wahdan Wilsa

Memulai Blogging sejak tahun 2009 hingga sekarang. Aktif di bidang musik yang dinaungi salah satu label musik di Kota Bandung. Saat ini fokus melanjutkan kuliah ke jenjang S2 di Universitas Negeri Semarang (UNNES). Website: Sharing Media - Info Tips dan Trik Terbaru

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak, relevan dengan artikel, komentar spam dan promosi akan kami hapus, terimakasih.

Kami akan menjawab komentar anda secepat mungkin, opsi lain silakan berkomentar di halaman facebook/melalui twitter kami.

Item Reviewed: Fatwa Haram Rokok Description: Rating: 5 Reviewed By: Asrizal Wahdan Wilsa
Scroll to Top